Friday, October 16, 2009

Ketika (...)

Ketika mentari datang dengan berjuta harapan indah.
Sinarnya menghangatkan jiwa di seluruh penjuru bumi.

Aku berjalan menyusuri jalan setapak 'tuk mewujudkan harapan.
Dengan langkah pasti kususuri jalan itu.

Memandang ke ujung jalan itu.
Namun, perjalanan menuju harapan tak semulus dibenak.

Ditengah jalan setapak itu terdapat sebuah batu besar.
Menghalangi jalan serta pandanganku.

Kucoba 'tuk singkirkan batu itu.
Tapi tak dapat kupindahkan.

Kucoba 'tuk hancurkan batu itu.
Tapi tak dapat dihancurkan.

Kuputuskan untuk mencari jalan setapak yang lain.
Tapi aku pun tak dapat menemukan jalan keluar.
Ku tetap terus mencari jalan setapak yang lain.
Tapi aku masih tetap tak dapat kutemukan.

Angin keputusasaan mulai menerpaku.

Aku harus bagaimana?
Tanyaku.

Kucari dan kucari.
Bagai berada didalam labirin kehidupan yang berliku.

Kurasa desiran angin harapan menyapaku.

Kau bisa! Aku ada di ujung jalanmu!
Sahutnya.

Kuputuskan untuk terus mencari ujung jalan ini.
Tapi tetap saja tak kutemukan.

Hingga akhirnya kulelah dan mataku pun terpejam.

Aku berada di tengah labirin kehidupan yang tak dapat kutemukan ujungnya.

Dan kini angin harapan itu menghilang entah kemana...

No comments:

Post a Comment