Thursday, October 29, 2009

Pilar-Pilar Penyesalan

Hari demi hari
Detik demi detik
Berlalu meninggalkan penyesalan mendalam

Meninggalkan berbagai kenangan dibalik penyesalanku
Meninggalkan berbagai kegundahan yang menerpaku

Kesempurnaan yang kuimpikan kini melayang jauh
Menguap ditengah lautan luas

Kini penyesalan memang selalu datang diakhir
Aku tak dapat menghentikan waktu dan kembali

Bagai dunia fantasi yang dapat kuputar kembali
Kuputar hingga kumampu menerjang penyesalan demi penyesalanku

Entah sampai kapankah kumampu menghalau yang kurasakan
Menghalau berbagai perasaanku sendiri
Ya, sendiri tanpa satu pilar pun yang 'kan membantuku

Simphoni Hati

Aku, adalah manusia yang tak mampu menjadi mereka
Aku, adalah seorang yang menutupi dirinya dengan berbagai keceriaan palsu
Aku, adalah perempuan yang tak dapat menatap ke dalam dirinya sendiri
Aku, tak mampu menciptakan harapan baru bagi mereka
Aku, hanyalah seonggok daging yang berwujud manusia yang tak memiliki kelebihan

Batu Karang

Hujan turun membasahi bumi
Menyegarkan...
Sejuk...
Namun, ada apa gerangan dengan hatiku?
Mengapa aku tidak mampu merasakan perasaan itu?
Hatiku begitu dingin!
Hatiku begitu beku!
Hatiku telah mati!
Aku tak mampu merasakan perasaan indah itu
Aku tak mampu mendeskripsikan perasaan itu
Yang kurasakan adalah sepi
Aku sendiri
Bagai berdiri ditengah deburan ombak
Menerjang batu karang
Keras!
Namun, rapuh didalamnya...

Kosong..

Dikala jiwa ini kosong..
Kau menuntunku dengan gelak tawamu..
Senang..
Tenteram ketika kutatap mata itu..
Aku tahu..
Kisah ini terasa berat di pundakmu..
Tapi..
Kuharap tak ada kesedihan..

Lorong langit (yang tak terlihat)...

Mentari pagi memancarkan sinarnya..
Malu-malu..

Ia menatap langit dari balik silaunya mentari..
Ia terduduk menjuntaikan kaki menatap hamparan padang dandelion..

Melanglang buana dalam dunia fana..
Hendak menggapainya..

Namun apa daya, ia tak sampai..
Terus menatap langit dan berharap mampu menggapainya..

Ia terduduk menjuntaikan kaki menatap hamparan padang dandelion..
Kembali ia ulurkan tangan 'tuk menggapainya..

Kali ini ia meyakini mampu menggapainya..

Menggapai lorong langit..

Dawai melodi (yang indah)..

Ketika ku terdiam..
Terdengar sayup lantunan melodi piano..

Indah..
Merdu..
Lembut..

Dawai not balok menyatu menjadi sebuah syair..

Mampu menggetarkan rasa yang gundah..
Mampu merasuk di relung jiwa yang kosong..

Melodi yang sendu bercampur suara kehidupan..
Meraih sebuah keselarasan yang timbul dalam hidup..

Membuang rasa benci..
Marah..
Duka..
Gundah..

Menyambut rasa suka..
Bahagia..
Tenteram..

Berharap kan membuka lembaran kehidupan..

Friday, October 16, 2009

Penantian Panjang..

Denting jam yang berbunyi keras..
Dari dinding kamarku..
Membuat debaran jantung kian cepat..

Mengingat penantian panjangku..
Menanti kepastian tak menentu..

Denting jam kini kembali berbunyi..
Debaran jantung kian cepat..
Membuatku tersadar dari alam bawah sadarku..
Dan kembali menanti..

Bagai jalan yang tak memiliki ujung pangkalnya..
Yang entah sampai kapan ujung pangkal jalan itu ditemukan..

Simphoni..

Dalam suasana hening..
Ku mendengar sayup suara merdu..
Dalam keheningan hari..
Ku mendengar alunan melodi..

Siapa gerangan pemilik suara merdu itu??
Dan siapa gerangan dibalik melodi indah itu??

Diam..
Dengarkah engkau?
Suara indah nan merdu..
Dawai melodi yang penuh rasa..

Kucari..
Dimanakah kutemukan suara indah itu?
Ku berlari..
Mencari simfoni indah..
Terus..
Hingga kulelah..
Dan berhenti..

Puisi Sahabat..

Satu kata yang terucap adalah sabda Pandita Ratu..
Debu, angin, dan ombak berderu menjadi satu..
Berkelana mengelilingi dunia yang fana..
Mengharap adanya ketenangan hati..

Bila kata perpisahan telah berkumandang..
Lepaslah jiwa ini..
Jangan kau teteskan airmata..
Hanya untuk perpisahan..
Jangan kau lupakan kenangan yang t'lah terlewati..
Jangan sampai putus persahabatan yang t'lah terjalin erat..

Kembangkan senyuman..
Saat ku tak ada diantara kalian..
Kepakkan sayapmu..
Gapai bulan sesuai asamu..
Karena..
Waktu kan terus berlalu..
Dan tak menunggu..

Mencari Jawaban (yang hilang)

Disini kududuk..
Memandang langit biru di pagi hari..
Yang dilukiskan oleh Sang Pelukis..

Disini kududuk..
Masih dengan memandang langit biru di pagi hari..
Memikirkan hari esok seperti apa..
Memikirkan akankah ku dapat menatap langit biru..
Di hari esok..

Disini kududuk..
Masih dengan keadaan yang sama..
Mencari jawaban dari pertanyaan yang kubuat sendiri..

Kini..
Ku t'lah beranjak pergi..
Ku pergi untuk mencarinya..
Dan berusaha menjawab misteri itu..

Hati yang Redup..

Aku tersenyum, namun sesungguhnya kuingin menangis..
Aku bahagia, namun sesungguhnya hatiku remuk..
Aku terdiam, namun sesungguhnya kuingin berteriak..

Hatiku hancur!
Hatiku remuk!
Tak berbentuk!
Hanya puing-puing kehidupan kujalani..

Kehidupan yang tak lagi kurasa berwarna..
Bagai awan kelabu menyelimutiku..
Bagai bulan enggan bersinar dan bersembunyi dibalik awan kelabu..

Ku terdiam, namun sesungguhnya kuingin berteriak..
Ku tersenyum, namun sesungguhnya kuingin menangis..

Beku..

Senja berganti malam
Malam berganti pagi
Matahari memancarkan sinarnya
Hingga penjuru bumi

Hangat sinar matahari
Tak mampu menghangatkan hatiku
Hangat sinar matahari
Tak mampu mencairkan kebekuan hatiku

Bagai melodi yang terlantun begitu dingin
Tanpa merasakan indahnya simfoni
Bagai berdiri ditengah badai pasir
Tanpa merasakan perih

Hingga berapa lamakah kumerasakan ini?
Seperti apakah kehangatan itu?

Sang waktu..

Dentingan jam berbunyi keras
Pertanda waktu terus berjalan
Jarum jam terus berputar
Seiring perputaran kehidupan..

Tik tok tik tok..
Detak jarum makin membahana
Menyadarkanku dari mimpi indahku

Mendesak untuk terus berjalan
Melewati jembatan nadi kehidupan

Tik tok tik tok
Detaknya makin mendesakku untuk terus berjalan
Melawan segala pesimistis

Menebas segala ketakutan
Menaburkan optimis
Meneriakkan keberanian

Tik tok tik tok
Detak jam makin membahana
Terus..
Dan terus..
Mengingatkan manusia untuk terus berjalan ke depan

Dan menatap dunia..

Aku..

Aku..
Seorang yang tampak bersinar
Seorang yang tak menampakkan kesedihan
Didepan banyak kaum

Aku..
Seorang yang tak mampu hidup seorang diri
Seorang yang selalu meneteskan air mata

Aku..
Seorang yang lemah
Lemah pada diri sendiri
Lemah pada kesendirian

Aku..
Yang hanya dapat merasakan kesedihan seorang diri
Yang selalu menangis pada kesendirian

Aku..
Hanya bisa bercerita pada kesedihan dan kehampaanku
Hanya dapat berteman dan berdamai dengan kesendirian

Ketika (...)

Ketika mentari datang dengan berjuta harapan indah.
Sinarnya menghangatkan jiwa di seluruh penjuru bumi.

Aku berjalan menyusuri jalan setapak 'tuk mewujudkan harapan.
Dengan langkah pasti kususuri jalan itu.

Memandang ke ujung jalan itu.
Namun, perjalanan menuju harapan tak semulus dibenak.

Ditengah jalan setapak itu terdapat sebuah batu besar.
Menghalangi jalan serta pandanganku.

Kucoba 'tuk singkirkan batu itu.
Tapi tak dapat kupindahkan.

Kucoba 'tuk hancurkan batu itu.
Tapi tak dapat dihancurkan.

Kuputuskan untuk mencari jalan setapak yang lain.
Tapi aku pun tak dapat menemukan jalan keluar.
Ku tetap terus mencari jalan setapak yang lain.
Tapi aku masih tetap tak dapat kutemukan.

Angin keputusasaan mulai menerpaku.

Aku harus bagaimana?
Tanyaku.

Kucari dan kucari.
Bagai berada didalam labirin kehidupan yang berliku.

Kurasa desiran angin harapan menyapaku.

Kau bisa! Aku ada di ujung jalanmu!
Sahutnya.

Kuputuskan untuk terus mencari ujung jalan ini.
Tapi tetap saja tak kutemukan.

Hingga akhirnya kulelah dan mataku pun terpejam.

Aku berada di tengah labirin kehidupan yang tak dapat kutemukan ujungnya.

Dan kini angin harapan itu menghilang entah kemana...

Waktu (...)

Tik tik tik
Detak jam terus bergerak
Tanda sang waktu terus berputar

Tik tik tik
Debaran jarum jam terus berlalu
Mendebarkan jantungku

Tik tik tik
Detak jarum jam semakin cepat
Debaran jantungku semakin cepat pula

Seluruh tubuh bergetar terasa
Tekanan pada suhu mulai meningkat
Membuatku seperti meleleh

Tik tik tik
Detak jarum jam semakin kuat kurasa
Membuatku teerus berdebar

Hei, sang waktu!
Dapatkah kau berputar kembali?
Seruku pada sang waktu

Tidak, wahai angin!
Jawabnya

Mengapa tak bisa, wahai sang waktu?
Tanyaku

Ada apa gerangan kau memintaku?
Tanya sang waktu

Aku ingin memperbaiki kenanganku yang buruk!
Jawabku pada sang waktu

Maaf, aku tak bisa mengulang waktu!
Serunya seraya pergi dan terus berputar maju

Kuberdiri tegak bagai batu karang yang kuat
Namun, sesungguhnya aku rapuh
Kutersenyum bagai mentari menyinari bumi
Namun, sesungguhnya hatiku menangis...

Dilemma...

Ketika pagi tlah menyongsong
Dan mengganti sang malam dari peraduan

Aku terjepit pada suatu keadaan
Aku berdiri pada pilihan-pilihan kehidupan

Suatu persimpangan yang berujung pada masa depan
Persimpangan yang berujung pada kebahagiaan

Namun, ada perasaan lain yang hadir dalam benak ini
Perasaan yang tak ingin untuk memilih

Wahai angin, kemanakah aku harus melangkah? Tanyaku pada angin

Melangkahlah pada jalan sebelah kiri, wahai manusia!
Jawab angin

Tapi mengapa aku masih ragu?
Ucapku

Kalau begitu melangkah pada jalan disebelahnya!
Serunya

Aku tak menjawab juga tak melangkah kemanapun

Hanya terdiam dan menunduk

Setengah hati

Seseorang memiliki setengah bagian dari hati yang lain
Ia berjalan mencari bagian hati yang lainnya

Terus..dan terus..
Namun, tak kunjung ia temukan
Kemudian lelah menerpanya
Terpejamlah ia dan melanglang buana dalam mimpi

Suara gemeresik dedaunan diterpak sang angin.

Tiba2 ia terjaga dari tidurnya dan menangkap satu bagian hati lain
Namun,seketika lenyap kemudian

Kemanakah sebagian hati itu pergi?

untitle..(kekosongan)

ketika aku berusaha untuk membuka hati
ketika aku berusaha untuk percaya
ketika aku berusaha untuk kembali tersenyum

namun, seperti tersambar petir di siang bolong
hal yang tak kuharapkan datang menghampiri

ketika aku berusaha menutup hati
ketika aku berusaha untuk tak menatap kembali ke belakang
ketika aku berusaha untuk menatap dunia

namun, sosok itu kembali datang menghampiri sejuta harapan indah
kembali dengan sejuta senyuman
kembali dengan sejuta mawar

dan ketika aku berusaha untuk kembali
ketika aku berusaha untuk percaya

hal itu kembali terulang dalam kehidupan
kembali menguras isi hatiku

mengapa kembali??
mengapa??
jika hanya ingin mengusikku??

cukup!!
aku mohon cukup!!

Seperti Burung dalam Sangkar

Awal yang tak menguntungkanku..
Meskipun cerah, namun bagiku terlihat murung
Inginku terlahir dengan jiwa baru

Menatap dimana kuberdiri dan berpijak
Memberikan senyum tulus tanpa imbalan
Merangkai kata indah dan tulus
Demi sebuah masa yang dinanti

Awal yang tak menguntungkanku..
Meskipun cerah, namun bagiku terlihat murung
Inginku terlahir dengan jiwa baru

Tersenyum pada mereka yang membutuhkan
Menata jalan dari nestapa
Menyerahkan cahaya yang berkilau
Demi sebuah pengharapan

Berjalan diatas kerikil tajam
Mengiris perih tanpa air mata
Gores luka yang tertoreh
Mengering, namun terus membekas
'Tuk selamanya..

PETER DAN TINA

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun,
hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik
bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi
waktu denganku."

Peter: "Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua
saja yang tidak punya pasangan sekarang."
(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"

Peter: "Eh? permainan apaan?"

Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi
pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"

Peter: "Baiklah... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan
ke depan."

Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan
jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"

Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen
deh. katanya film itu bagus"

Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke
karaoke ya...
ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."

Peter : "Boleh juga..."
(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang
malam harinya)

Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe,
suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati
mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah
kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat
Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli
sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di
foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai
berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit karena
tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina
dengan lembut.

Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay. Bulan sudah menampakan diri,
langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka
duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan
suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan
melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan
kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam
hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu
menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang
tahunnya.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan
mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear
untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China. Tina
penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya
mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang", kemudian peramal itu
meneteskan air mata.

Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi
karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan
berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya
pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan
mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.

15:20 pm
Tina: "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar."
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu
mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari
ini. Sebentar ya"
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta
selalu macet.

15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah
panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu
adalah temanmu"
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.
Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak
tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih
bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan
surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia
segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi
terlihat damai.
Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan
erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat
dalam di hatinya.
Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.

Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi
sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang
hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh
malam itu di pantai,
Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi
kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur
hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.

23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat
meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99
hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku
kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"

Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...

Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan
pernah kembali lagi.

True love doesn't have a happy ending, because true love never ends....


kiriman: Peter (Cetivasi Net)